Serial Jenderal Legendaris - Rommel
#1 February 23, 12:23 pm
Serial Jenderal Legendaris - Rommel
Nih dari pada gak ada postingan, yang rencananya nanti ada serial Jenderal Jenderal Legendaris yang sukses mempimpin perang-perang besar, artikel ini saya ambil dari blognya mas Irwan (maap ya mas...., boleh to) dari pada ngetik lagi cape deh.....he...he... nyuwun ngapunten ya mas.

ini artikelnya :

Sebagai jenderal yang ulung dalam menghadapi lawan yang sama tangguhnya, kekalahannya justru ditangisi oleh musuhnya. Meski sebagian besar tokoh Nazi mendapat caci-maki dan dihukum oleh Sekutu, Rommel tetap dikenang kebesarannya dan sampai saat ini merupakan satu-satunya tokoh Third Reich yang memiliki museum mengenang dirinya dan karirnya.


Erwin Johannes Eugen Rommel (15 November 1891–14 Oktober 1944) adalah seorang komandan pasukan Jerman pada era Perang Dunia II. Perdana Menteri Britania Raya Sir Winston Churchill, yang waktu itu adalah musuh bebuyutan Jerman, pernah terang-terangan memberikan salut kepada jenderal jenius ini di Parlemen. Pada akhir hayatnya ketika ditanya mengapa dia memuji musuh, Churchil mengatakan "Saya tidak menyesal memuji Rommel".

Erwin Rommel dilahirkan di Heidenheim, sekitar 50 km dari kota Ulm, di negara bagian Württemberg, Jerman bagian selatan. Anak kedua seorang kepala sekolah menengah di Aalen ini pada usia 14 tahun bersama teman-teman membuat sebuah pesawat layang (glider) yang berhasil terbang, meski tidak jauh. Rommel muda ingin belajar teknik, namun ayahnya tidak menyetujuinya dan menyuruhnya bergabung dengan Resimen Infantri ke-24 Württemberg sebagai kadet pada 1910 dan segera dikirim ke Sekolah Kadet Militer di Danzig.

Pada 1911, kadet Rommel berkenalan dengan Lucie Maria Mollin, yang kemudian dinikahinya pada 1916. Pada November 1911, Rommel menyelesaikan pendidikannya dan mendapat pangkat Letnan di Wehrmacht/Angkatan Darat Jerman pada Januari 1912.

Saat pecah Perang Dunia I tahun 1914, Rommel telah berpangkat letnan dan bertugas di front barat: Perancis dan Rumania. Terluka sebanyak tiga kali, Rommel mendapat anugerah bintang jasa Iron Cross kelas satu dan kelas dua pada Januari 1915.

Pada 1917 Rommel bertugas di front Italia, dan usai memimpin penyerangan Monte Matajur dipromosikan sebagai kapten. Segera sesudahnya, Rommel dan sekelompok kecil anak buahnya merenangi Sungai Piave untuk merebut garnisun pasukan Italia di Lognaroni. Pertempuran ini menyebabkan dirinya dianugrahi bintang jasa tertinggi di Angkatan Perang Jerman, yaitu Pour le Mérite, bintang jasa yang biasanya diberikan hanya pada para jenderal. Pasukannya juga memainkan peranan penting dalam pertempuran di Caporetto, kunci kemenangan Jerman atas Angkatan Darat Italia.


Perang Dunia II

Usai perang, Rommel tetap berdinas di Wehrmacht dan pada 1929 diangkat menjadi instruktur di Sekolah Infantri di Dresden. Pada Oktober 1935 dia naik pangkat menjadi letnan kolonel dan mulai mengajar di Akademi Militer Potsdam.

Sebagai guru yang luar biasa, bahan-bahan kuliah Rommel diterbitkan sebagai buku taktik-taktik infantri (Infanterie greift an) pada 1937. Buku ini dibaca oleh Adolf Hitler yang saking terkesannya menugaskan Rommel melatih Hitler Jügend pada tahun itu. Pada tahun 1938, Rommel, yang sudah berpangkat kolonel, ditunjuk sebagai komandan Akademi Perang di Wiener Neustadt. Di sekolah itu, dia menulis buku lanjutan bukunya yang pertama (Infantry Attacks), yaitu Panzer greift an (Tank Attacks, sering diterjemahkan sebagai Tank in Attacks). Dia dipindahkan tak lama kemudian dan ditempatkan dalam batalyon pengawal pribadi Adolf Hitler (Führer-Begleitbattalion).

Pada musim gugur 1938, Hitler menunjuk Rommel untuk memimpin unit Wehrmacht yang bertugas melindungi kunjungannya ke Cekoslowakia yang baru saja dianeksasi Jerman. Menjelang invasi ke Polandia, Rommel dipromosikan sebagai Mayor Jenderal dan Komandan Führer-Begleitbattalion yang bertanggungjawab atas pengamanan markas besar bergerak Hitler selama invasi.


Perancis 1940

Tiga bulan setelah invasi Polandia, Rommel mendapat perintah mengomandoi Divisi Panzer ke-7 yang menginvasi Perancis pada Mei 1940. Pasukannya bergerak maju lebih cepat dan lebih jauh dari pasukan-pasukan lain dalam sejarah militer dunia dan mendapat julukan Gespenster-Division (Divisi Hantu), saking sulitnya dideteksi keberadaannya bahkan oleh markas besar Wehrmacht.

Divisi Panzer ke-7 merupakan unit pasukan Jerman pertama yang mencapai Selat Inggris pada 10 Juni 1940, Lalu dia memutar ke selatan, merebut pelabuhan penting Cherbourg pada 19 Juni, dan melaju sepanjang pesisir Perancis hingga mencapai perbatasan Spanyol.


Afrika Utara 1941-1943

Sebagai penghargaan, Rommel dipromosikan menjadi Jenderal dan Komandan Divisi Lapis Baja ke-5 (kemudian direorganisir dan redesain sebagai Divisi Panzer ke-21) dan Divisi Panzer ke-15, yang dikirim ke Libya pada awal 1941 untuk menolong pasukan Italia yang menderita kekalahan besar di front Afrika Utara. Pasukannya inilah cikal bakal terbentuknya Deutsches Afrika Korps. Pasukan barunya ini berhasil memukul mundur Divisi AD ke-8 Inggris (British 8th Army) keluar dari Tobruk di Libya. Pasukannya merangsek terus ke Mesir tapi berhasil dipatahkan di El Alamein. Begitu tentara AD Amerika Serikat mendarat di Maroko dan Aljazair, pasukannya ditarik mundur meninggalkan Tunisia. Kiprahnya di medan pertempuran di padang pasir Afrika Utara itu membuatnya dijuluki "Rubah Padang Pasir" ("The Desert Fox")

Kejeniusannya dalam taktik perang infantri, didukung kecanggihan teknologi panser Jerman dan kedisiplinan pasukannya yang tinggi membuat Jerman unggul. Sayang sekali, kesuksesan ini tidak terlalu mendapat tanggapan serius dari Reichführer Hitler. Kurangnya pasokan logistik, amunisi dan bahan bakar dikarenakan perhatian Hitler ke front Rusia dan upaya menyerbu Inggris serta adanya blokade Angkatan Laut Inggris di Laut Tengah menyebabkan pasukan Afrika Korps tidak mampu melanjutkan pertempuran dan terus mengalami kekalahan.


Benteng Atlantik 1943-1944

Rommel yang terserang infeksi saluran pernafasan ditarik pulang ke Jerman. Ada dugaan kekalahannya di El Alamein dan penarikan mundur pasukannya dari Tobruk membuat Hitler berang. Kembali ke Jerman, Rommel sempat menganggur. Akan tetapi saat serangan Sekutu makin gencar, Rommel ditunjuk sebagai Panglima Grup B Wehrmacht, yang bertugas mempertahankan pantai Perancis dari kemungkinan invasi Sekutu. Di bawah komandonya termasuk barisan pertahanan Benteng Atlantik (Atlantic Wall) yang akhirnya tidak mampu menahan invasi Sekutu pada 6 Juni 1944.


Plot Anti-Hitler

Pada 17 Juli 1944, dalam perjalanan pulang dari front, mobil Rommel diberondong pesawat Spitfire Angkatan Udara Kanada. Rommel terluka parah dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Pada saat yang sama, terbongkarlah konspirasi politik yang ingin menghabisi Hitler (Plot 20 Juli). Keterlibatan beberapa orang dekatnya menyebabkan Rommel dicurigai terlibat dalam upaya kudeta tersebut. Mengingat popularitas Rommel di mata rakyat Jerman, Hitler memberinya pilihan: bunuh diri dengan menenggak sianida atau mengaku di depan pengadilan rakyat (Volksgerichtshof). Rommel memilih mengakhiri hidupnya dengan sianida pada 14 Oktober 1944 dan dimakamkan secara kebesaran militer.

Setelah usai perang, istrinya menyatakan bahwa Rommel menentang plot tersebut karena ingin menghindari anggapan generasi penerus Jerman bahwa Jerman kalah di Perang Dunia II karena Hitler ditikam dari belakang, sebagaimana halnya yang terjadi pasca Perang Dunia ke-1 manakala sebagian besar anggota Wehrmacht tidak mau menyerah begitu saja kepada Sekutu. Rommel mengusulkan kepada kelompok Plot 20 Juli untuk menangkap Hitler dan menyeretnya ke pengadilan rakyat. Sayangnya plot tersebut terbongkar lebih dahulu sebelum dilaksanakan.

Buku harian Rommel lantas diterbitkan dengan judul The Rommel's Papers. Dan pada tahun 1951, sebuah perusahaan film Inggris memproduksi film berjudul The Desert Fox. Meski sebagian besar tokoh Nazi mendapat caci-maki dan dihukum oleh Sekutu, Rommel tetap dikenang kebesarannya dan sampai saat ini merupakan satu-satunya tokoh Third Reich yang memiliki museum mengenang dirinya dan karirnya.

kalo rekan-rekan ada referensi laen mohon dibantu melengkapinya.
tks before......
#2 March 2, 4:42 pm
Jenderal Jerman favorite gw selain Guderian, Doenitz
#3 March 3, 6:56 am

nambahin artikelnya pak hogie, ini ada buku tentang rommel's afrika corp (pdf) sapa tau blum punya. saya dapet dari forum tetangga  tapi maap saya belum download jadi gak tau apa masih ada filenya

1.Rommel's Africa Korps - Tobruk to El Alamein, Osprey Battle Orders 20

   http://rapidshare.com/files/144054681/OBO20_blo.rar 

   password :  www.farposst.ru

2. Rommel's Desert Army, Osprey Men at Arms

    http://rapidshare.com/files/31273192/Osprey_-_Men_at_Arms_053.rar

3. Kasserine Pass 1943 - Rommel's last Victory, Osprey  Campaign  152 

    http://rapidshare.com/files/163082662/cam152.rar

monggo disedot, mudah2an bermanfaat

#4 March 3, 4:14 pm
yuuups, makasih atas referensinya siap diunduh.....
#5 April 24, 3:21 pm
Ini saya kopas dari forum tetangga, saya sudah minta ijin buat ngambil artikelnya.

Erwin Rommel

<!-- / icon and title --><!-- message -->
Erwin Johannes Eugen Rommel "Desert Fox" (Rubah Gurun/Wüstenfuchs), adalah seorang Jenderal Besar (Generalfeldmarschall) Jerman masa Perang Dunia II yang paling terkenal, dan dihormati baik oleh musuh2nya maupun koleganya.


Generalfeldmarschall Erwin Rommel

Sebagai seorang perwira dengan penghargaan Pour le Mérite atas eksploitasinya di front italia pada Perang Dunia I, nama Rommel mulai berkibar di PD II dengan menjadi komandan 7th Panzer Division Jerman "Gespensterdivision" (Ghost Division). Dinamai Ghost Division karena kecepatan dan kebebasan manuvernya yang bahkan Komando Tertinggi Jerman di Berlin pun susah untuk mengikutinya.


Rommel bersama staffnya sedang mengatur strategi saat invasi Perancis 1940

Deutsche Afrikakorps

Nama Rommel makin terkenal seantero Jerman dan melegenda setelah dia menjadi komandan Deutsche Afrikakorps (Korps Afrika Jerman), dengan medan pertempuran yang membentang di Afrika Utara. Rommel dikenal sebagai seorang Jenderal Perang paling hebat dalam medan pertempuran gurun pasir. Disanalah julukan "Desert Fox" disematkan pada dirinya dan melegenda. Pasukan Sekutu terutama Inggris benar2 ketar-ketir dibuatnya. Bagaimana tidak, dengan pasukan dan perlengkapan tempur (Tank, amunisi, perbekalan, senjata, artileri, dll) yang terbatas, Rommel mencatat kemenangan demi kemenangan dalam setiap pertempuran yang tercatat di medan Afrika Utara. Saking frustrasinya pasukan sekutu waktu itu, tercatat pernah dilakukan usaha pembunuhan Rommel oleh sekelompok pasukan komando Inggris.


Rommel beserta ajudannya di Afrika

Seorang William Churchill pun memiliki quote bagi Rommel:

"We have a very daring and skillful opponent against us, and, may I say across the havoc of war, a great general."

Sang Rubah Gurun mulai terhuyung2 setelah akhirnya jalur logistik Jerman sudah digempur habis2an, dan perbekalan yang harusnya sampai di tangan pasukannya banyak yang dihancurkan dan hilang di tengah jalan. Ditambah lagi dengan kehadiran Jenderal baru di jajaran Angkatan Perang Inggris yang cakap dan terampil bernama General Field Marshall Bernard Law Montgomery (Monty).

Rommel The Chivalrous General

Rommel sangat dikenal sebagai seorang Jenderal yang ksatria, dia dan Deutsche Afrikakorps nya yang terkenal, tidak dikenai tuduhan telah melakukan kejahatan perang sama sekali, dan pasukan musuh yang tertangkap dilaporkan telah diperlakukan dengan sangat manusiawi. Pasukan komando Inggris yang gagal dalam usaha pembunuhan Rommel, juga dikuburkan dengan penghormatan militer tembakan salvo ke udara oleh pasukan Jerman. Rommel sendiri mendeskripsikan African campaign nya sebagai "Krieg ohne hass" (War without hate).

Banyak contoh tentang sikap ksatria Rommel saat PD II, diantaranya Rommel mengabaikan perintah Hitler tentang eksekusi mati bagi tentara Yahudi yang tertangkap, Rommel juga tidak mendeportasi orang Yahudi ke kamp konsentrasi Jerman, dan saat pembangunan Tembok Atlantik, pekerja Perancis tidak diperlakukan sebagai budak, melainkan dibayar atas hasil kerja mereka.

Rommel's Death

Selalu ada pihak2 yang tidak setuju dan menjadi oposisi dari Hitler, tapi karena kemenangan demi kemenangan di setiap pertempuran pasukan Jerman selama 1938-1941, membuat posisi Hitler sangat kuat di Jerman. Namun setelah kekalahan di front Rusia, dan Jerman semakin sering menderita kekalahan, oposisi ini semakin menguat.

Rommel tidak termasuk dalam kelompok oposisi ini, dan dia tidak pernah dihubungi oleh pemimpin kelompok ini. Bagaimanapun, Rommel dikenal sering memprotes kebijakan Hitler, dan tidak setuju dengan rejim Nazi. Disaat yang sama rapor Rommel di Afrika membuatnya sangat populer di mata publik Jerman, dan kepala sipil dari gerakan oposisi Hitler yaitu Dr. Carl Goerdeler memasukkan nama Rommel di daftar orang2 yang dipertahankan di pemerintahan setelah Nazi, dan apabila memungkinkan mengangkat Rommel sebagai Presiden Jerman.

Setelah plot pembunuhan Hitler 20 Juli yang gagal, banyak konspirator yang ditangkap, bahkan orang yang dicurigai pun juga ditangkap. Malang bagi Rommel, namanya tercantum di dalam daftar yang dibuat Dr. Goerdeler dan di dalam dokumen2 yang lain, sebagai pendukung gerakan oposisi dan pendukung plot pembunuhan Hitler.

Bagaimanapun, tetap tidak ditemui bukti kuat bahwa Rommel terlibat. Namun karena banyaknya laporan atas kritik2 Rommel terhadap rejim Nazi, dan kebijakan yang dibuat Hitler membuat posisinya lemah. Dan banyak Jenderal2 yang tidak suka kepadanya curiga bahwa walaupun Rommel tidak terlibat, paling tidak dia mengetahui akan adanya plot tersebut.

Karena popularitasnya di mata publik Jerman, dan fakta bahwa Rommel pernah merupakan salah satu Jenderal Favorit Hitler, dan salah satu dari yang paling sukses, membuat rommel mendapatkan perlakuan khusus. Rommel didatangi oleh Wilhelm Burgdorf dan Ernst Maisel di rumahnya. Burgdorf memberikan pilihan dari Panglima Angkatan Perang Keitel, yaitu menyerahkan diri ke pengadilan rakyat, yang akan mengakibatkan penganiayaan terhadap keluarganya, dan penangkapan bawahannya atau bunuh diri dengan menenggak kapsul sianida. Apabila dia bunuh diri, keluarganya akan dijamin, dan akan ada penguburan secara nasional, dan pernyataan bahwa dia meninggal secara heroik.

Rommel memutuskan untuk bunuh diri, dan menjelaskan keputusannya kepada keluarganya. Hari itu juga Rommel dibawa pergi dengan mobil Burgdorf ke pinggiran desa, dan disana dia dipersilahkan bunuh diri.


Monumen di lokasi bunuh diri Erwin Rommel

Makam Erwin Rommel

Berita resmi tentang kematian Rommel seperti yang diumumkan ke publik adalah bahwa Rommel mengalami serangan jantung, atau karena cedera dalam peperangan. Untuk menguatkan cerita ini, Hitler memerintahkan untuk diadakan hari berkabung untuk Rommel, dan penguburan Rommel dilakukan secara militer penuh. Hitler menyuruh Jenderal Gerd von Rundstedt sebagai perwakilan dirinya saat pemakaman.

Quotes About Rommel

William Churchill saat mendengar berita meninggalnya Rommel:

"He also deserves our respect, because, although a loyal German soldier, he came to hate Hitler and all his works, and took part in the conspiracy to rescue Germany by displacing the maniac and tyrant. For this, he paid the forfeit of his life. In the sombre wars of modern democracy, there is little place for chivalry."


Theodor Werner yang merupakan bawahan Rommel saat PD I :

"Anybody who came under the spell of his personality turned into a real soldier. He seemed to know what the enemy were like and how they would react."


Jenderal Inggris Claude Auchinleck, salah satu musuh Rommel di Afrika, dalam sebuah surat untuk komandan lapangannya:

"There exists a real danger that our friend Rommel is becoming a kind of magical or bogey-man to our troops, who are talking far too much about him. He is by no means a superman, although he is undoubtedly very energetic and able. Even if he were a superman, it would still be highly undesirable that our men should credit him with supernatural powers"


dan dia mengakhiri surat tersebut dengan kalimat :

"I am not jealous of Rommel."
#6 October 21, 1:44 pm

Eh...ada cerita mengenai gw. Manteb om. Tengkiu2 


#7 December 9, 5:18 pm

Quote:
Originally posted by: "Hogie
Nih dari pada gak ada postingan, yang rencananya nanti ada serial Jenderal Jenderal Legendaris yang sukses mempimpin perang-perang besar, artikel ini saya ambil dari blognya mas Irwan (maap ya mas...., boleh to) dari pada ngetik lagi cape deh.....he...he... nyuwun ngapunten ya mas.

ini artikelnya :

Sebagai jenderal yang ulung dalam menghadapi lawan yang sama tangguhnya, kekalahannya justru ditangisi oleh musuhnya. Meski sebagian besar tokoh Nazi mendapat caci-maki dan dihukum oleh Sekutu, Rommel tetap dikenang kebesarannya dan sampai saat ini merupakan satu-satunya tokoh Third Reich yang memiliki museum mengenang dirinya dan karirnya.


Erwin Johannes Eugen Rommel (1<mce:script type="text/javascript" src="http://www.modelkit.org/design/js/tinymce/themes/advanced/langs/en.js" mce_src="http://www.modelkit.org/design/js/tinymce/themes/advanced/langs/en.js"></mce:script>5 November 1891–14 Oktober 1944) adalah seorang komandan pasukan Jerman pada era Perang Dunia II. Perdana Menteri Britania Raya Sir Winston Churchill, yang waktu itu adalah musuh bebuyutan Jerman, pernah terang-terangan memberikan salut kepada jenderal jenius ini di Parlemen. Pada akhir hayatnya ketika ditanya mengapa dia memuji musuh, Churchil mengatakan "Saya tidak menyesal memuji Rommel".

Erwin Rommel dilahirkan di Heidenheim, sekitar 50 km dari kota Ulm, di negara bagian Württemberg, Jerman bagian selatan. Anak kedua seorang kepala sekolah menengah di Aalen ini pada usia 14 tahun bersama teman-teman membuat sebuah pesawat layang (glider) yang berhasil terbang, meski tidak jauh. Rommel muda ingin belajar teknik, namun ayahnya tidak menyetujuinya dan menyuruhnya bergabung dengan Resimen Infantri ke-24 Württemberg sebagai kadet pada 1910 dan segera dikirim ke Sekolah Kadet Militer di Danzig.

Pada 1911, kadet Rommel berkenalan dengan Lucie Maria Mollin, yang kemudian dinikahinya pada 1916. Pada November 1911, Rommel menyelesaikan pendidikannya dan mendapat pangkat Letnan di Wehrmacht/Angkatan Darat Jerman pada Januari 1912.

Saat pecah Perang Dunia I tahun 1914, Rommel telah berpangkat letnan dan bertugas di front barat: Perancis dan Rumania. Terluka sebanyak tiga kali, Rommel mendapat anugerah bintang jasa Iron Cross kelas satu dan kelas dua pada Januari 1915.

Pada 1917 Rommel bertugas di front Italia, dan usai memimpin penyerangan Monte Matajur dipromosikan sebagai kapten. Segera sesudahnya, Rommel dan sekelompok kecil anak buahnya merenangi Sungai Piave untuk merebut garnisun pasukan Italia di Lognaroni. Pertempuran ini menyebabkan dirinya dianugrahi bintang jasa tertinggi di Angkatan Perang Jerman, yaitu Pour le Mérite, bintang jasa yang biasanya diberikan hanya pada para jenderal. Pasukannya juga memainkan peranan penting dalam pertempuran di Caporetto, kunci kemenangan Jerman atas Angkatan Darat Italia.


Perang Dunia II

Usai perang, Rommel tetap berdinas di Wehrmacht dan pada 1929 diangkat menjadi instruktur di Sekolah Infantri di Dresden. Pada Oktober 1935 dia naik pangkat menjadi letnan kolonel dan mulai mengajar di Akademi Militer Potsdam.

Sebagai guru yang luar biasa, bahan-bahan kuliah Rommel diterbitkan sebagai buku taktik-taktik infantri (Infanterie greift an) pada 1937. Buku ini dibaca oleh Adolf Hitler yang saking terkesannya menugaskan Rommel melatih Hitler Jügend pada tahun itu. Pada tahun 1938, Rommel, yang sudah berpangkat kolonel, ditunjuk sebagai komandan Akademi Perang di Wiener Neustadt. Di sekolah itu, dia menulis buku lanjutan bukunya yang pertama (Infantry Attacks), yaitu Panzer greift an (Tank Attacks, sering diterjemahkan sebagai Tank in Attacks). Dia dipindahkan tak lama kemudian dan ditempatkan dalam batalyon pengawal pribadi Adolf Hitler (Führer-Begleitbattalion).

Pada musim gugur 1938, Hitler menunjuk Rommel untuk memimpin unit Wehrmacht yang bertugas melindungi kunjungannya ke Cekoslowakia yang baru saja dianeksasi Jerman. Menjelang invasi ke Polandia, Rommel dipromosikan sebagai Mayor Jenderal dan Komandan Führer-Begleitbattalion yang bertanggungjawab atas pengamanan markas besar bergerak Hitler selama invasi.


Perancis 1940

Tiga bulan setelah invasi Polandia, Rommel mendapat perintah mengomandoi Divisi Panzer ke-7 yang menginvasi Perancis pada Mei 1940. Pasukannya bergerak maju lebih cepat dan lebih jauh dari pasukan-pasukan lain dalam sejarah militer dunia dan mendapat julukan Gespenster-Division (Divisi Hantu), saking sulitnya dideteksi keberadaannya bahkan oleh markas besar Wehrmacht.

Divisi Panzer ke-7 merupakan unit pasukan Jerman pertama yang mencapai Selat Inggris pada 10 Juni 1940, Lalu dia memutar ke selatan, merebut pelabuhan penting Cherbourg pada 19 Juni, dan melaju sepanjang pesisir Perancis hingga mencapai perbatasan Spanyol.


Afrika Utara 1941-1943

Sebagai penghargaan, Rommel dipromosikan menjadi Jenderal dan Komandan Divisi Lapis Baja ke-5 (kemudian direorganisir dan redesain sebagai Divisi Panzer ke-21) dan Divisi Panzer ke-15, yang dikirim ke Libya pada awal 1941 untuk menolong pasukan Italia yang menderita kekalahan besar di front Afrika Utara. Pasukannya inilah cikal bakal terbentuknya Deutsches Afrika Korps. Pasukan barunya ini berhasil memukul mundur Divisi AD ke-8 Inggris (British 8th Army) keluar dari Tobruk di Libya. Pasukannya merangsek terus ke Mesir tapi berhasil dipatahkan di El Alamein. Begitu tentara AD Amerika Serikat mendarat di Maroko dan Aljazair, pasukannya ditarik mundur meninggalkan Tunisia. Kiprahnya di medan pertempuran di padang pasir Afrika Utara itu membuatnya dijuluki "Rubah Padang Pasir" ("The Desert Fox")

Kejeniusannya dalam taktik perang infantri, didukung kecanggihan teknologi panser Jerman dan kedisiplinan pasukannya yang tinggi membuat Jerman unggul. Sayang sekali, kesuksesan ini tidak terlalu mendapat tanggapan serius dari Reichführer Hitler. Kurangnya pasokan logistik, amunisi dan bahan bakar dikarenakan perhatian Hitler ke front Rusia dan upaya menyerbu Inggris serta adanya blokade Angkatan Laut Inggris di Laut Tengah menyebabkan pasukan Afrika Korps tidak mampu melanjutkan pertempuran dan terus mengalami kekalahan.


Benteng Atlantik 1943-1944

Rommel yang terserang infeksi saluran pernafasan ditarik pulang ke Jerman. Ada dugaan kekalahannya di El Alamein dan penarikan mundur pasukannya dari Tobruk membuat Hitler berang. Kembali ke Jerman, Rommel sempat menganggur. Akan tetapi saat serangan Sekutu makin gencar, Rommel ditunjuk sebagai Panglima Grup B Wehrmacht, yang bertugas mempertahankan pantai Perancis dari kemungkinan invasi Sekutu. Di bawah komandonya termasuk barisan pertahanan Benteng Atlantik (Atlantic Wall) yang akhirnya tidak mampu menahan invasi Sekutu pada 6 Juni 1944.


Plot Anti-Hitler

Pada 17 Juli 1944, dalam perjalanan pulang dari front, mobil Rommel diberondong pesawat Spitfire Angkatan Udara Kanada. Rommel terluka parah dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Pada saat yang sama, terbongkarlah konspirasi politik yang ingin menghabisi Hitler (Plot 20 Juli). Keterlibatan beberapa orang dekatnya menyebabkan Rommel dicurigai terlibat dalam upaya kudeta tersebut. Mengingat popularitas Rommel di mata rakyat Jerman, Hitler memberinya pilihan: bunuh diri dengan menenggak sianida atau mengaku di depan pengadilan rakyat (Volksgerichtshof). Rommel memilih mengakhiri hidupnya dengan sianida pada 14 Oktober 1944 dan dimakamkan secara kebesaran militer.

Setelah usai perang, istrinya menyatakan bahwa Rommel menentang plot tersebut karena ingin menghindari anggapan generasi penerus Jerman bahwa Jerman kalah di Perang Dunia II karena Hitler ditikam dari belakang, sebagaimana halnya yang terjadi pasca Perang Dunia ke-1 manakala sebagian besar anggota Wehrmacht tidak mau menyerah begitu saja kepada Sekutu. Rommel mengusulkan kepada kelompok Plot 20 Juli untuk menangkap Hitler dan menyeretnya ke pengadilan rakyat. Sayangnya plot tersebut terbongkar lebih dahulu sebelum dilaksanakan.

Buku harian Rommel lantas diterbitkan dengan judul The Rommel's Papers. Dan pada tahun 1951, sebuah perusahaan film Inggris memproduksi film berjudul The Desert Fox. Meski sebagian besar tokoh Nazi mendapat caci-maki dan dihukum oleh Sekutu, Rommel tetap dikenang kebesarannya dan sampai saat ini merupakan satu-satunya tokoh Third Reich yang memiliki museum mengenang dirinya dan karirnya.

kalo rekan-rekan ada referensi laen mohon dibantu melengkapinya.
tks before......
Pak Hogie, upload cerita2 perang lagi dunk 

#8 December 22, 8:40 am

siap Marshall......

All times are GMT +7. The time now is 12:05 pm.