Blogs

2,5 liter Future, 25 liter thinner, 6 botol lem plastik, 4 tube alteco, 19 kuas, 36 botol cat, 82 pasang sarung tangan lateks, 8 boks tissue, 24 lembar amplas berbagai macam ukuran, 300 meter masking tape, 12 spray paint, 72 mata cutter, 108 liter bir, melewatkan malam-malam di Museum, termasuk cucuran keringat dan tetesan darah, serta jelas berkali kali lupa makan....
Itu semuanya masih belum cukup untuk menggambarkan kegairahan kami yang pada akhirnya dapat mempersembahkan :

Indonesian Air Force Aviation : 1945 – today
Sebuah pameran permanen di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta




Cita-cita untuk dapat memberikan sedikit kontribusi bagi negara Republik Indonesia tercinta ini sebenarnya telah menyeruak lama di benak kami. Namun kami bukanlah siapa-siapa. Kami hanyalah sekumpulan “tukang rakit miniatur dari plastik” yang tergabung dalam ISMS (Indonesian Scale-Model Society). Kegemaran kami tersebut telah menghantarkan pada gagasan untuk memvisualkan perjalanan panjang Angkatan Udara Republik Indonesia, yang pernah menjadi yang terbesar di bumi Asia Selatan.

Jalan untuk itu akhirnya terbuka pada awal tahun 2008 yang lalu ketika seorang penerbang tempur, mantan Komandan Lanud Iswahjudi dan mantan Panglima Kohanudnas Marsda (Purn) F. Djoko Poerwoko berkenan mendukung dan membuka jalan untuk cita-cita kami.

Divisualkan oleh Sinang Aribowo, Rahman Ramadya, Mario Binsar, Akha Vardhana, Iwan Winarta, Andreas Sunarso, Ivan Gaudart, Nugroho, Peter Nur Asan dan Alex Sidharta, dan melalui perjalanan 13,5 jam dari Jakarta dan 7,5 jam dari Surabaya lewat jalan darat, melalui banyak goncangan dan “turbulensi”, disertai kekhawatiran akan terjadi kerusakan pada model-model tersebut, akhirnya sebanyak 38 model tahap pertama mencapai tujuannya : Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta.



Disana kami melakukan perbaikan, dokumentasi model, dan akhirnya penempatan tampilan akhir model di kotak display. Jadilah ruang display museum disulap menjadi workshop dan studio dadakan. Pembagian display model berdasar era-nya menjadikan ruangan itu menjadi tempat diskusi pula mengenai sejarah panjang TNI AU. Tanpa terasa semuanya kami kerjakan hingga jauh malam. Kepuasan mengalahkan rasa lelah, pegal, dan lapar karena bisa melihat model-kit yang berhasil kami dan rekan-rekan modeler lainnya buru, kumpulkan, dan buat dalam kurun waktu 2 tahun terakhir akhirnya bisa diwujudkan sebagai apresiasi kami kepada TNI AU.





Ke-38 model yang dipamerkan dan dapat dinikmati oleh pengunjung Museum mulai 29 Juli 2010, bertepatan dengan Hari Bhakti TNI-AU tersebut adalah :

- K5Y1 Churen
- Cukiu
- Avro Anson
- Ki-43 Hayabusha
- Ki-51 Guntei
- Sakae-Blenheim Mk.IV
- DC-3 Dakota RI-001
- Noorduyn Norseman
- Ki-48 Diponegoro
- Auster Mk.IV
- PBY-5A Catalina
- AT-16 Harvard
- P-51D Mustang
- B-25J Mitchell
- B-26B Invader
- Lavochkin La-11
- Tupolev Tu-2
- Mi-1/SM-1
- L-29 Delphin
- Mikoyan Guryevich MiG-15UTI
- Mikoyan Guryevich MiG-17PF
- Mikoyan Guryevich MiG-17F
- Mikoyan Guryevich MiG-19S
- Mikoyan Guryevich MiG-21F-13
- Tupolev Tu-16B/KS
- Ilyushin Il-28 Beagle
- C-130 Hercules
- T-34C Turbo Mentor
- Avon Sabre Ca-27 Mk.32
- Hughes 500C
- UH-1
- SA-330J Puma
- S-58T Twinpack / Codot
- F-16A Fighting Falcon
- Hawk Mk.109
- Hawk Mk.53
- F-5F Tiger II
- Su-27SK Flanker

Untuk mendukung pameran permanen ini, tersedia pula mini-catalog yang dapat dilihat di : http://issuu.com/sinangaribowo/docs/flyer_catalogue_en





Kegiatan ini masih jauh dari selesai. Masih ada sekitar 50 model lagi yang akan ditambahkan sehingga seluruh pesawat dan helikopter yang pernah bertugas aktif di angkatan udara kita dapat tervisualisasikan seluruhnya. Untuk itu, apabila ada rekan-rekan yang berminat untuk berkontribusi aktif dalam kegiatan ini, silakan menghubungi Sdr. Rahman (rramadya@yahoo.com) atau Sdr. Alex (alexsidharta@gmail.com)

Tak lupa, kamipun mendapat dukungan besar terhadap kegiatan ini dari Andreas Pramaditya, R Setiawan dan Christianto EP. Juga Sinang, Rahman, Mario, Akha, Roland dan Alex sebagai anggota Panitia Persiapan Kegiatan.

Inilah persembahan sederhana kami, sekedar untuk berbagi dan membangkitan kembali semangat kecintaan terhadap kedirgantaraan Indonesia.

Tulisan oleh Alex
Foto oleh Akha, Mario
eternal
kehebatan softener decal
Posted July 26, 2010 by eternal in My Story
halo pr modeller , sekali2 nulis blog pengalaman pribadi seputar mokit, he5 001_tongue
baru2 ini saya mulai mengeluti mokit motor dlnya mokit militer mulu , nah kebetulan dimokit motor banyak sekali part2 yg susah dimasukin oleh decal, saya lihat2 diinternet org2 byk yg ngerakit mokit motor dengan tambahan decal carbon pd bagian2 tertentu nah saya kepincut untuk membeli decal crbon, pas digunakan ternyata diluar dugaan ,decal crbon tdk menempel sampai kesela2 n banyak yg lepas akhirnya decal carbon pun terbuang percuma hang,cari tau apa triknya ternyata jawabanya ad disoftener decal (kebetulan saudara flanker jual *promosiin dikit yah dan !!!!!em0100*) pas coba luar biasa decal masuk sampe kesela2 bahkan sampai membentuk detail em3600 dr speedometer sampe fulllstep semuanya sempurna ,luar biasa kegunaan softener decal ini, n bagi para modeller yg punya masalah dlm menempel decal direcommend bgt menggunakn softener decal thumbup1
ok itu sabagian cerita saya semoga bisa menambah pengetahuan para modeller semuanya <makasih<img src="http://www.modelkit.org/file/pic/emoticon/default/thumbup1.gif" alt="thumbup1" title="thumbup1" title="v_middle" />
Hello guys...


Setelah sempat menunggu prbaikan kerusakan di sekuens blog uploader, akhirnya bisa juga saya persembahkan sesuatu yg saya harapkan cukup berharga buat temen2 sekalian ( taelaaa...001_tt2 ) A lot of thanks buat Pak Admin yg sudah bersusah payah utk memperbaiki feature dlm forum ini... thumbup1


Emmm...sedikit mau share aja ttg perjalanan pulang dari Bandung via tol Cipularang pada hari Minggu, 18 Juli 2010 yg lalu. Saya memang sudah men-schedule-kan berangkat dr Bandung jam 12 siang, muter2 bentar buat iseng & kalo mmungkinkan tiba di Jakarta sekitar jam 3-4 sore, krn saya memang mau spare waktu utk istirahat spy enggak tlalu capek di hari Senin keesokannya. Namun, saat hendak pulang itu, papa saya mau nebeng utk sekedar nengokin adek saya yg tengah bekerja di Subang, dimana planningnya adalah keluar melalui exit tol Sadang utk menuju Subang & papa saya memang minta utk di-drop saja di sana supaya saya bisa melanjutkan prjalanan pulang ke Jakarta. Saya menyanggupi & juga kebetulan mama & adek bungsu saya jg mau ikut skalian. Sebelumnya, mama udh menyarankan utk lewat Lembang saja supaya tidak trlalu berputar2 di wilayah Sadang tp papa saya menolak usul tsb & jg bralasan udh meng-confirm petugas informasi jalan tol ttg jarak trdekat ke Subang. Sampai saat itu, memang tidak ada masalah & lagi pula memang saya belum pernah ke Subang sebelumnya, jd ya nurut2 aja deh, & juga harapan saya utk pulang on schedule tetep brjalan dng mulus.. glare


Singkat cerita, berangkatlah kami semua ke arah Sadang via Cipularang & setibanya di daerah Sadang, saya lgsg arahkan ke exit ramp tol Sadang. Setelah beberapa ratus meter dr pintu exit tol tsb, barulah saya menyadari bahwa jarak ke Subang sangatlah jauh dng melihat papan informasi jalan yg bertuliskan "... Subang 41 km..." Ohhh Myy Goddddd!!!!! cursing em0300 Itu juga brarti, kalo disandingkan dng peta, kan brarti mundur lg arah selatan balik ke Bandung +/- 40 km!! hammer Wahhh bener2 dehh, lgsg seketika itu juga saya jd diem & kesel tapi mau marah2 juga gimana, orang tua sndiri, ampun dehhh crying Jadilah sepanjang jalan saya cuma bersungut2 & cuek kl diajak ngomong, dlm hati saya "Gimana sih survey-nya?? Petugas informasi tol-nya jg ga bener tuh!..." hrrmmmpffff...


Apa mau dikata, yaa tetep deh prjalanan dilanjutkan. Setibanya di Subang, mungkin krn tak enak hati dng saya papa & mama mnyuruh saya utk plg ke Jakarta & mereka memang mau balik ke Bandung dng bus. Hhhhh, ya sudahlah, saya putar arah utk kembali "menempuh 40 km" (arah balik ke Sadang)...Masih di tengah2 kekesalan itu & di tengah ibukota kabupaten yg relatif sangat sepi, tiba2 mata saya "terperangkap" oleh sebuah bangunan yg masih cukup bagus kondisinya dng tulisan "Gedung Juang 45 Kabupaten Subang" & yg paling membuat saya ngeh adalah monumen sebuah pesawat tempur tua di atasnya... yes


Seketika itu juga saya brpikir pesawat apakah ini? Sempat terlintas bhw ini adalah F4U Corsair yg sempat beroperasi di Indonesia sekitar masa pasca kemerdekaan 1945, namun bukan oleh AURI. Ternyata ini adalah Vultee VT-13 Valiant (from: Bpk Alex Sidharta, thank you Pak... Smile ) Wah, gak pernah terlintas di benak saya nama pesawat tempur kala itu, paling2 yg saya inget cuma Buffalo, Warhawk, Mustang, & bbrp lagi tapi tidak termasuk Valiant ini, hehehe... Langsung saja naluri fotografer saya (halaahhhh!! hihi..) beraksi & menggunakan kamera handphone yg lumayan resolusinya, saya capture beberapa gambar pesawat tempur tsb.


Ternyata ada hikmahnya juga saya mengarungi prjalanan sjauh itu, gak disangka2 ibukota kabupaten spt Subang menyimpan sesuatu yg bernilai sejarah tinggi spt ini. Tuhan memang Maha Adil & mungkin itulah rahasia-Nya, di saat saya sedang kecewa berat, dikirimlah "obat" utk kecewa saya itu & inilah hasilnya...hehehe...sekaligus juga tak lupa saya minta maaf kpd papa, mama, & adek2 saya, huhuhu... tapi laen kali tetep mesti akurat-lah informasi prjalanannya, supaya gak buang2 waktu, tenaga, & jg gak nambah2 polusi, hahaha... 001_tongue


Mudah2an temen2 skalian bisa bersemangat dng yg satu ini, bisa pula dijadikan bahan referensi bagi yg berminat, atau mungkin utk sekedar cuci mata saja. Dengan senang hati, silahkan teman2 mnikmatinya... 001_smile



















Enjoy the parade! clap
mac_fikky
Tirpitz rebuild
Posted July 4, 2010 by mac_fikky

Awal kisah ni model kit udah lama bgt saya beli, bertahun2 kit tersebut terbengkalai dan rusak, (sorry foto keadaan awalnya gak difoto lupa ), ya sudah singkart cerita lagi bengong duduk sambil ngerokok eh timbul inspirasi, gimana ya kalau model ini saya reparasi dengan kondisi 95 % part yang masih tersisa, ya sudah tahap pertama saya mau ganti deknya dengan dek kayu (agar lebih realistik) gitu , dek saya buat dari lembar triplek yang tipis kemudian saya potong2 menjadi ratusan lembar dengan ukuran 0,2mm - 0.4mm kalau gak salah, lembar demi lembar saya susun pelan-pelan (memakan waktu 4 hari lamanya, selepas itu saya cat ulang sekoci dan pesawatnya, kemudian proses rigging. Untuk catnya saya biarkan apa adanya biar telihat kesan lusuh dan kusam, dan untuk urusan railing belum sempat dikerjakan kawan-kawan ada yang punya ide kira-KIRA buat pagarnya dari apa ya bagus dan gampang?, some body can help me . tidak banyak yang saya bisa ceritakan ini intinya hanya sekedar pembelajaran aja cara membuat dek kayu, dari pada beli mahal mending buat sendiri.










Kritik dan saran kawan-kawan sekalian sangat diharapkan demi pembelajaran di masa hadapan

dwinandabp
Manual Download
Posted June 21, 2010 by dwinandabp
undefined
Displaying 1 to 5 of 96